Assalamu'alikum, hello ... NFM biasa dipanggil fida. Seorang perempuan yang baru saja mulai menyukai hidupnya, sangat takut kehilangan sahabatnya, ingin punya banyak teman. Hobi membaca, mengarang, menggambar, kadang juga dengerin musik. Tapi, kalau musik lebih suka yang accoustic B). Thank's ~
| |
Short Story : AndindreA
Posted on Wednesday, January 4, 2012
Assalamu'alaikum ...Hari ini, aku mau buat cerita (lompat-lompat) hh .. gak usah banyak basa-basi, ini diaaaa ... ![]() ![]() Pagi itu, matahari bersinar cerah. Cahaya matahari perlahan-lahan menerobos masuk ke dalam kamar dan menyinari kamar gadis itu. Kamar yang tadinya masih gelap kemudian terang seketika. Lalu, dia mengajak tubuhnya untuk bangkit dari kasur yang empuk itu. tok ... tok ... tok ... "hhh, itu pasti ibu" gumamnya sambil berjalan menuju pintu dan membukanya. Ia masih mendapati ibunya berdiri di depan pintu. "Dien, ibu tunggu di meja makan ya. Silahkan cuci muka mu dulu, biar lebih terlihat cerah. Ibu mau panggil Andrea dulu" ucap ibu sambil tersenyum. "Ibu, apa ibu tak lelah ? setiap hari, ibu teruss memanggil kakak untuk bergabung di meja makan. Namun, hasilnya dia tak pernah ingin" dia terus menatap ibunya yang tak pernah menyerah, menyuruh Andrea untuk ikut sarapan atau pun kumpul bersama. "Mungkin, kali ini dia mau. Lebih baik dicoba dulu, kan ?" "Iya. Tapi, dia terus begitu, bu. Dia tak takut akan dosa. Dia terlalu sibuk dengan kelompok balap-nya, bahkan, mungkin dia sudah punya pacar" "Baiklah, kalau begitu cepatlah kau basuh wajahmu. Lalu, ke meja makan. Ayah sudah menunggumu" Ibupun berlalu menuju meja makan. Setelah selesai mencuci muka, Andien pun berjalan menuju meja makan. Dia berhenti sebentar di depan kamar kakaknya, perlahan-lahan dia mendorong pintunya. Ternyata tidak terkunci, lihat kiri-kanan tak ada orang. Baju, video game tersebar dimana-mana. Sangat berantakan. "Kakak, kemana ya ?" setelah mencari kemana-mana, tak ada yang aneh di dalam kamar ini. Kemudian, Andien berjalan menuju jendela yang terbuka lebar di kamar itu. Dia melihat keluar jendala, banyak bekas roda sepeda motor di depan pagar rumah. "Hahh .. kakak kabur" dia langsung berlari menuruni tangga dan berjalan menuju meja makan. "Ibu, ayah ... hhhh .. hhh .. kakak kabur !" ucapnya terengah-engah sambil mengatur nafasnya karena lelah berlari. "Maksudmu ?" tanya ibu, ayah hanya terdiam. Seperti sedang memikirkan sesuatu. "Perkiraanku, kakak kabur tadi malam bersama teman-temannya yang kelompok motor itu saat kita semua tidur" jelasnya. "Darimana kau tahu itu ?" tanya ibu lagi. "Jelas saja, banyak bekas roda motor liar di depan pagar. Lalu, lemari kakak, baju-baju di lemari itu terbongkar semua. Kamarnya, seperti kapal pecah. Mungkin, dia tak pernah membersihkannya setelah bergambung dengan kelompok gak jelasnya itu" Ibu hanya diam mendengar penjelasan Andien, ayah apalagi. Dari tadi dia tak pernah memberikan komentar sedikitpun. Mungkin dia sedang memiliki masalah. "Ibu, ada apa dengan ayah ?" tanyanya memecah kesepian. "Toko ayah ... " ucap ibu pelan. "Ke .. kenapa dengan toko Cokelat ayah, bu ? ku kira, toko itu toko yang terkenal saat ini" "Sekarang sudah tidak, Dien. Ada toko cokelat Chocobio, toko itu lebih besar dari toko ayah" Andien, yang sedari tadi makan dengan lahap tiba-tiba saja makannya terhenti, setelah mendengar perkataan ibu. Sesudah mandi, Andien langsung mengurung diri di kamar. Dia tak tahu harus berbuat apa pada hari itu. Setelah mendengar berita dari ibu, dia sangat kaget. Andien ingat kalau ini hari minggu, sebenarnya ia ingin beljar berkuda bersama ayah di lapangan dekat rumah paman. Namun, setelah melihat keadaan yang seperti ini, rencana itu Andien urungkan. Andien terus mencorat-coret bukunya sampai malam pun tiba. Saat jam makan malam pun tiba, ia keluar dari kamar. Kemudian masuk lagi setelah selesai makan. Ia berncana menunggu sampai Kak Andrea datang, feeling-nya berkata kalau dia akan datang pada malam ini. Brrmmmm .... brrrrmm ... Suarah gaduh pun terdengar, benar saja kakaknya datang pada malam ini. Dengan sigap, ia langsung berlari kecil menuju jendela kamarnya. Ternyata dia tak ditemani oleh temannya, dia melihat gerak-gerik kakaknya dengan teliti. Dan, dia mendapat suatu keganjalan, Kak Andrea mabuk. Andien tak berencana mengitrogasi kakaknya pada malam ini. Bagaimana bisa dia mengintrogasi kalau dia dalam keadaan mabuk seperti itu, jawaban yang keluar pasti asl-asalan. ![]() Pagipun kembali menyapa bumi, Andien bangun cepat pada pagi itu. Dia tak mendengar suara ketukan ibu yang biasanya kalau jam segini sudah terdengar. Karena penasaran, Andien segera menghampiri meja makan. Sesampainya disana, dia tak melihat siapa-siapa. Akhirnya, Andien mendapati Ibunya tengah menangis tersedu-sedu di samping tempat tidur Ayah. Ayah sedang berbaring di tempat tidur itu. Dia melihat wajah ayahnya, tak ada ekspresi hanya tatapan kosong yang ia dapati. "Ayah kenapa, bu ?" tanyanya pelan. "Ayah sakit. Mungkin, karena dia terlalu memikirkan tokonya" Andien pun keluar dari ruangan itu, bukan karena apa, dia tak ingin ayah melihatnya menangis. Ia berjalan menuju kamar mandi, berniat untuk mencuci wajahnya yang di banjiri oleh air mata. Saat keluar dari kamar mandi, ia melihat kakaknya yang sedang membuat kopi untuk dirinya sendiri. "kak, apa kakak gak tahu kalau ayah sedang sakit ?" tanya Andien pelan. "Apa peduliku ? ayah, ibu, dan kau tak pernah peduli denganku!" jawabnya galak. "Kakak salah paham ! setiap hari, ibu memanggil kakak untuk berkumpul bersama dan saling bercerita itu agar mereka tahu kita itu perlu apa. Kakak yang tak pernah peduli dengan kami. Kakak hanya peduli dengan kelompk tak jelas kakak itu !!!" "Sudahlah, aku capek mendengar ocehanmu" ucapnya lalu pergi dari hadapan Andien sambil menyeruput kopinya. ![]() Dan hari menyedihkan itupun tiba, ayah pergi pada subuh tadi. Sekarang sudah jam tujuh pagi, para pelayat berpakaian hitam-hitampun ramai mengunjungi rumah. Ibu tak dapat memendung air matanya lagi, dia terus menangis dan memeluk jasad ayah. Andien hanya duduk terdiam di samping ibu, dia terus mengusap-usap pundak ibunya. Sedangkan kak Andrea, dia menangis. Ya, dia menangis, ini adalah sebuah kejadian langka. Kak Andrea menyesal atas semua yang dia perbuat selama ini, dia berjanji kalau dia tidak akan mengulanginya lagi. Teman-teman Andrea juga datang dan meminta maaf kepada ibu. Untungnya, Ibu masih membuka pintu maafnya bagi Andrea. Semoga ini adalah awal agar semuanya kembali seperti awal, dimana mereka selalu tersenyum dan selalu berkumpul layaknya keluarga yang lain. === The End === Labels: school, short story | |